Kapuas Prima Coal (ZINC) akan terbitkan obligasi Rp 600 miliar dengan rating BBB

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Lembaga pemeringkat Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) kembali menegaskan peringkat PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC). Pefindo memberikan peringkat BBB bagi emiten tambang tersebut dengan prospek stabil.

Pefindo menyematkan peringkat ini untuk penerbitan obligasi I tahun 2018 sebesar Rp 600 miliar. ZINC akan menggunakan dana hasil emisi obligasi untuk membiayai belanja modal dan modal kerja.

“Peringkat BBB yang diberikan Pefindo ini mencerminkan profil cadangan dan sumber daya ZINC yang memadai dan lebih banyak operasi yang terintegrasi secara vertikal dalam waktu dekat dan menengah,” terang Analis Pefindo Wilson Soegianto dan Martin Pandiangan dalam keterangan resmi, Rabu (28/11).

Mereka juga mengungkapkan bahwa peringkat BBB tersebut dibatasi oleh struktur permodalan ZINC yang lebih agresif dan pelemahan tindakan proteksi arus kas, margin yang lebih rendah dibandingkan dengan rekan-rekan global dan paparan harga komoditas berfluktuasi.

“Peringkat tersebut dapat dinaikkan, jika ZINC melebihi proyeksi pendapatan maupun margin dan meningkatkan leverage keuangan,” tambah mereka.

Sebaliknya mereka bilang, rating tersebut bisa diturunkan jika pertumbuhan pendapatannya gagal memenuhi proyeksi dan struktur modalnya menjadi jauh lebih agresif.

“Rating juga akan berada di bawah tekanan jika fluktuasi harga di pasar seng dan timbal global secara signifikan mengganggu pendapatan dan profitabilitasnya,” kata Wilson dan Martin.

Asal tahu saja, ZINC mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 122,26% menjadi Rp 521,80 miliar hingga kuartal III 2018. Seiring pertumbuhan pendapatan, beban pendapatan ZINC juga meningkat 98,90% menjadi Rp 273,90 miliar.

Sementara, laba kotor ZINC pada kuartal III 2018 sebesar Rp 247,90 miliar atau naik 156,50% dari periode sama tahun tahun lalu senilai Rp 96,65 miliar. Alhasil, laba bersih ZINC tercatat Rp 99,53 miliar, melonjak 365,53% jika dibandingan dengan sembilan bulan pertama tahun lalu.

Reporter: Krisantus de Rosari Binsasi
Editor: Wahyu Rahmawati

Reporter: Krisantus de Rosari Binsasi
Editor: Wahyu Rahmawati
Video Pilihan